Kebiasaan mengonsumsi minuman manis bertakar gula tinggi secara rutin membawa dampak serius bagi kesehatan saluran pencernaan. Sebuah studi kesehatan jangka panjang yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances mengungkapkan bahwa konsumsi rutin minuman manis bergula tinggi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker lambung lebih dari dua kali lipat.
Riset terintegrasi ini mengevaluasi dampak konsumsi minuman manis terhadap kesehatan pencernaan selama beberapa dekade. Para peneliti mendasarkan kajian mereka pada analisis data rekam medis lebih dari 112.000 peserta di Amerika Serikat guna memantau perkembangan kondisi kesehatan partisipan dalam rentang waktu yang panjang.
Perbedaan dengan Pemanis Buatan
Menariknya, hasil evaluasi dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan risiko kanker lambung hanya berkaitan dengan konsumsi gula tinggi. Peneliti tidak menemukan adanya peningkatan risiko kanker lambung pada konsumsi minuman yang menggunakan pemanis buatan, seperti halnya soda diet maupun teh tanpa tambahan gula.
Konsumsi Anggur dan Blueberry Efektif Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Meski minuman berpemanis buatan tidak menunjukkan korelasi peningkatan risiko kanker lambung dalam studi ini, konsumsi gula berlebih secara umum telah terbukti menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan lainnya pada tubuh manusia.
Dampak Konsumsi Gula dan Manfaat Pola Hidup Sehat
Bahaya asupan gula berlebih juga terbukti memengaruhi fungsi organ dan sistem kekebalan. Studi lain mencatat bahwa konsumsi gula tambahan berlebih pada usia paruh baya mampu meningkatkan risiko demensia hingga 43 persen. Selain itu, obesitas akibat pola konsumsi yang buruk meninggalkan jejak molekuler pada sel T pembantu yang dapat bertahan selama 5 hingga 10 tahun setelah berat badan turun, sehingga terus memicu peningkatan risiko penyakit jangka panjang.
Ramalan Shio Kuda dan Kambing Jumat, 4 September 2026

Untuk menangkal berbagai ancaman penyakit kronis, penerapan pola hidup aktif sangat dianjurkan. Riset membuktikan bahwa kombinasi olahraga kardio dan latihan beban mampu memangkas risiko diabetes tipe 2 hingga 50 persen. Di samping itu, olahraga rekreasi dapat memangkas risiko demensia sebesar 24 persen, berbeda dengan beban kerja fisik berat yang justru menunjukkan dampak sebaliknya. Menjaga pola hidup sehat serta melakukan deteksi dini juga menjadi langkah krusial yang ditekankan oleh dokter spesialis saraf dr. Diorita Dyah Prayanti dalam mencegah serta menangani berbagai gangguan penyakit berbahaya.






