Badan Kehormatan (BK) DPD RI menjadwalkan pemanggilan terhadap anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, guna meminta klarifikasi mengenai kehadirannya dalam agenda Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand.
Langkah pemanggilan tersebut diambil menyusul ramainya sorotan di media sosial terkait keterlibatan Arya dalam perhelatan tersebut, yang dinilai sebagian kalangan secara tidak langsung berkaitan dengan promosi LGBT. Terkait hal ini, Arya sebelumnya menyampaikan klarifikasi bahwa kepergiannya bukan mewakili institusi parlemen, melainkan dalam kapasitas pribadi sebagai tokoh budaya, pariwisata, dan pemuka Hindu Bali.
Kendati demikian, BK DPD memandang status sebagai anggota lembaga perwakilan daerah tetap melekat pada diri setiap senator. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan di ruang publik dinilai wajib mempertimbangkan kepatutan, kehormatan jabatan, dan dampaknya terhadap citra kelembagaan DPD RI.
Karhutla di Muaro Jambi Berlangsung Lebih dari 20 Hari, Api Meluas Hampir 100 Hektare

Dalam proses klarifikasi mendatang, BK DPD akan memeriksa sejumlah aspek secara terperinci. Poin-poin penelusuran tersebut mencakup tujuan kedatangan, kapasitas keterlibatan, pihak pengundang dan penyelenggara acara, hingga ada atau tidaknya penggunaan atribut maupun fasilitas yang berkaitan dengan fasilitas kedinasan.
Selain soal kehadiran di acara kontes tersebut, BK DPD turut mendalami informasi mengenai adanya pendampingan dari anggota TNI saat Arya menjalankan kegiatannya di Thailand. Terkait aspek pengawalan ini, BK akan melakukan kajian berpedoman pada UU MD3, UU Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI, UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, serta Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2024 tentang Tata Tertib.
Kebakaran Pabrik Sabun di Simalungun Belum Padam hingga Malam Ini

Ketua BK DPD Hasby Yusuf menegaskan bahwa pemanggilan ini bukan berarti Arya telah diputuskan melanggar kode etik. BK masih akan mengumpulkan fakta di lapangan dan meminta penjelasan langsung dari yang bersangkutan sebelum membuat penilaian akhir.
Arya sendiri menerangkan bahwa rangkaian lawatannya selama tiga hari di Thailand berfokus pada misi kebudayaan dan pariwisata. Kegiatannya meliputi peluncuran promosi pariwisata ASEAN, pameran, diskusi budaya, peluncuran video promosi pariwisata Bali Barat, hingga kunjungan ke sejumlah rumah ibadah. Pada sesi penerimaan penghargaan sebagai tokoh budaya Bali, Arya hadir mengenakan pakaian adat Bali. Ia juga menyatakan tidak mengetahui kaitan perhelatan tersebut dengan isu LGBT dan memandang Thailand sebagai destinasi wisata dengan keberagaman gender tanpa berniat mencampuri urusan internal pihak pemberi penghargaan.






