Sebuah penerbangan menuju Hong Kong pada tahun 1975 menjadi saksi bisu lahirnya salah satu raksasa perbankan terbesar di Tanah Air. Di atas awan, pendiri Salim Group, Sudono Salim yang juga dikenal sebagai Liem Sioe Liong, tidak sengaja bertemu dengan tokoh perbankan Mochtar Riady. Pertemuan kasual di dalam pesawat tersebut menjadi awal mula dari kolaborasi bersejarah yang mengubah peta perbankan di Indonesia. Pertemuan yang tidak disengaja ini membuka jalan bagi kerja sama erat di antara kedua tokoh besar tersebut dalam mengembangkan industri keuangan.
Dalam pertemuan kasual yang terjadi di atas pesawat tersebut, Mochtar Riady secara terbuka menyampaikan ambisinya untuk membangun sebuah bank baru. Ambisi besar tersebut ternyata sangat relevan dengan kebutuhan Sudono Salim saat itu. Pada waktu yang bersamaan, Sudono Salim sedang mencari sosok profesional bertangan dingin untuk membenahi dan mengelola tiga bank miliknya yang sedang membutuhkan penanganan serius. Ketiga lembaga perbankan yang dimiliki oleh Sudono Salim pada saat itu adalah Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia (BCA).
Mengetahui jam terbang tinggi serta reputasi mumpuni yang dimiliki oleh Mochtar Riady di dunia keuangan, Sudono Salim tanpa ragu langsung menyodorkan tawaran kemitraan strategis saat mereka masih berada di dalam penerbangan. Kesepakatan informal yang terjadi di udara tersebut akhirnya menjadi sebuah titik balik historis bagi perkembangan dunia perbankan nasional. Kerja sama ini mempertemukan keahlian manajemen dari Mochtar Riady dengan kekuatan finansial yang dimiliki oleh Sudono Salim.
IHSG Ditutup Naik 1,59 Persen di Tengah Pidato Presiden Prabowo

Melalui kolaborasi strategis ini, visi kedua tokoh tersebut mulai terwujud. Di bawah kepemimpinan Mochtar Riady yang dipadukan dengan sokongan modal yang kuat serta jaringan bisnis luas milik Sudono Salim, Bank Central Asia (BCA) mengalami transformasi yang luar biasa. Bank yang pada awalnya hanya berskala kecil tersebut berhasil disulap menjadi bank swasta paling tangguh di Indonesia. Kombinasi kepemimpinan profesional dan dukungan finansial yang solid menjadi kunci utama dalam pertumbuhan pesat BCA.
Di balik keputusan bisnis yang sangat krusial tersebut, terdapat aspek lain yang memengaruhi langkah Sudono Salim. Keputusannya untuk memilih Mochtar Riady sebagai mitra bisnis ternyata turut dipengaruhi oleh petunjuk mistis dari seorang peramal. Hal ini menunjukkan adanya sisi spiritual yang kuat di balik keputusan-keputusan besar yang diambil oleh pendiri Salim Group tersebut dalam mengelola imperium bisnisnya.
Menteri PU Bawa 50 Ribu Paket Sembako Presiden untuk Korban Gempa NTT

Kisah mengenai ritual spiritual Sudono Salim ini diungkap secara mendalam dalam sebuah buku sejarah bisnis. Buku berjudul "Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto" yang terbit pada tahun 2016 karya Richard Borsuk dan Nancy Chng memaparkan detail mengenai ritual spiritual yang dilakukan oleh Sudono Salim di Gunung Kawi, Jawa Timur. Tempat tersebut memang dikenal memiliki kaitan erat dengan perjalanan spiritual sang pengusaha dalam mencari petunjuk bagi masa depan bisnisnya.
Berdasarkan catatan dari Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku tersebut, setelah melakukan kunjungan untuk menemui peramal di Gunung Kawi, Sudono Salim mendapatkan keyakinan yang sangat kuat. Sekembalinya dari Gunung Kawi, dengan penuh keyakinan Sudono Salim menyatakan bahwa dirinya akan menjadi "Tang Sheng" bagi Mochtar Riady. Ungkapan ini merefleksikan komitmen dan keyakinan spiritualnya untuk mendukung penuh langkah Mochtar Riady, yang pada akhirnya terbukti berhasil membawa kemajuan besar bagi perkembangan Bank Central Asia (BCA).






