Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan hari Rabu, 19 Agustus 2026. Apresiasi mata uang Garuda ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Agustus 2026. Pada akhir perdagangan hari tersebut, mata uang rupiah tercatat menguat sebesar 0,14 persen dan mendarat di posisi Rp17.825 per dolar AS.
Keputusan bank sentral untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen diambil dalam RDG yang diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada 18-19 Agustus 2026. Selain menahan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen serta suku bunga Lending Facility di level 6,50 persen. Langkah moneter ini rupanya sudah diantisipasi secara tepat oleh pasar. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan bahwa seluruh responden secara kompak memprediksi BI Rate akan tetap bertahan di angka 5,75 persen.
Bank Indonesia Waspadai Risiko El Nino Terhadap Harga Beras, Cabai, dan Bawang Merah

Melalui keputusan pada bulan Agustus ini, Bank Indonesia tercatat telah mempertahankan suku bunga acuan dalam dua pertemuan berturut-turut, setelah sebelumnya juga mengambil langkah serupa pada RDG Juli 2026. Kebijakan menahan suku bunga ini diambil setelah BI sempat menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang periode Mei hingga Juni 2026, yang mengerek BI Rate dari level 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan senantiasa dijaga. Hal ini akan ditempuh melalui langkah-langkah optimalisasi terhadap seluruh instrumen moneter yang dimiliki oleh bank sentral.
Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen pada Agustus 2026

Di samping faktor kebijakan domestik, penguatan rupiah juga didukung oleh kondisi pasar luar negeri, di mana indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah sebesar 0,16 persen ke posisi 99,497 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan indeks dolar ini terjadi seiring dengan rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda kelesuan, seperti data tenaga kerja yang lebih lemah serta tingkat inflasi yang lebih jinak. Kendati demikian, ketidakpastian global masih membayangi pergerakan nilai tukar ke depan. Para pelaku pasar dilaporkan tetap memantau secara ketat risiko geopolitik yang bersumber dari kawasan Timur Tengah, termasuk konflik antara AS dan Iran yang belum mereda sepenuhnya serta potensi gangguan arus pelayaran di Selat Hormuz yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan.






