Bank Indonesia menyelenggarakan rapat dewan gubernur pada Rabu, 19 Agustus 2026. Dalam konferensi pers yang digelar setelah pertemuan tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, memberikan peringatan penting mengenai perkembangan cuaca. Bank sentral secara resmi mewanti-wanti mengenai potensi pemburukan cuaca ekstrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino di tanah air. Peringatan ini menjadi perhatian serius demi menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Dewan Gubernur Bank Indonesia memproyeksikan bahwa kondisi cuaca ekstrem akibat El Nino ini memiliki potensi untuk berlangsung dalam jangka panjang, bahkan hingga Oktober 2026. Risiko dari fenomena cuaca ekstrem tersebut diperkirakan akan sangat terkonsentrasi di kawasan Timur Indonesia. Oleh karena itu, wilayah timur menjadi fokus perhatian utama dalam mengantisipasi dampak buruk dari fenomena alam ini.
Ricky P. Gozali menjelaskan lebih lanjut bahwa kondisi El Nino ini berpotensi meningkatkan biaya produksi untuk sejumlah komoditas bahan pangan. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak harus waspada terhadap risiko El Nino yang diperkirakan lebih kuat hingga Oktober di kawasan timur tersebut. Selain itu, kewaspadaan juga harus diarahkan pada tekanan biaya produksi yang dapat membebani para produsen pangan di wilayah terdampak.
Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen pada Agustus 2026

Untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah, termasuk pemerintah daerah, akan terus berfokus pada pengelolaan dan pengendalian tekanan inflasi di Indonesia ke depannya. Upaya pengendalian inflasi ini akan secara khusus diprioritaskan pada komoditas-komoditas pangan yang sensitif dan krusial bagi masyarakat. Beberapa komoditas pangan utama yang menjadi fokus perhatian dalam pengendalian ini adalah beras, cabai, serta bawang merah.
Peringatan dan langkah antisipasi mengenai El Nino ini disampaikan di tengah tren perkembangan inflasi domestik yang sebenarnya sedang menunjukkan arah positif. Inflasi di Indonesia tercatat mengalami penurunan dari level 3,34 persen pada bulan Juni menjadi 2,88 persen secara tahunan (year-on-year). Penurunan yang cukup signifikan ini terutama didorong oleh membaiknya angka inflasi pada kelompok pangan bergejolak (volatile food).
Pameran IBTE 2026 Hadirkan Ribuan Booth Produk Bayi dan Mainan di Jakarta

Secara lebih rinci, inflasi pada kelompok pangan bergejolak atau volatile food tersebut berhasil ditekan hingga turun ke level 2,52 persen pada bulan Juli. Angka ini menunjukkan perbaikan yang sangat besar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang sempat menyentuh angka 5,58 persen. Meskipun pencapaian ini






