Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mengalami pelemahan tipis pada sesi perdagangan Kamis (13/8) pagi. Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing pada Kamis pagi, nilai tukar mata uang rupiah berada di level Rp17.878 per dolar AS. Mata uang Garuda tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 1 poin atau 0,01 persen jika dibandingkan dengan posisi pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan tipis rupiah ini menandai kondisi pasar valuta asing yang bergerak dinamis pada pembukaan perdagangan hari ini.
Di kawasan Asia, pergerakan nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS terpantau bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis (13/8) pagi. Sejumlah mata uang di Asia berhasil mencatatkan penguatan terhadap mata uang AS. Won Korea Selatan tercatat menguat sebesar 0,19 persen, sedangkan yen Jepang naik sebesar 0,04 persen. Selain itu, yuan China menguat sebesar 0,02 persen dan dolar Singapura juga terapresiasi sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, nilai tukar dolar Hong Kong tercatat bergerak stabil tanpa mengalami perubahan signifikan. Sebaliknya, tekanan terjadi pada peso Filipina yang melemah sebesar 0,03 persen serta ringgit Malaysia yang terdepresiasi sebesar 0,01 persen.
Berbeda dengan kondisi di kawasan Asia yang bervariasi, mata uang utama negara maju terpantau kompak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (13/8) pagi ini. Penurunan nilai tukar dialami oleh euro Eropa yang turun sebesar 0,01 persen dan poundsterling Inggris yang melemah sebesar 0,03 persen. Selain itu, dolar Australia tercatat mengalami koreksi sebesar 0,08 persen, sementara franc Swiss juga turut turun sebesar 0,01 persen. Di antara jajaran mata uang utama negara maju tersebut, hanya dolar Kanada yang mampu mencatatkan kinerja positif dengan menguat sebesar 0,04 persen terhadap dolar AS.
Cara Menyikapi Hasil Rebalancing Indeks MSCI Terbaru dan Tanggapan BEI

Menyikapi perkembangan mata uang rupiah dan kondisi valuta asing global, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan analisis terkait prospek pergerakan rupiah. Lukman Leong mengatakan bahwa rupiah memiliki peluang untuk bergerak menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Peluang penguatan mata uang rupiah ini didasarkan pada sentimen global, khususnya data yang menunjukkan bahwa inflasi di AS kembali termoderasi. Moderasi inflasi AS tersebut memberikan sentimen positif bagi rupiah untuk bergerak di zona hijau.
Selain rilis data inflasi AS yang termoderasi, pergerakan rupiah juga ditopang oleh sentimen positif dari pasar modal. Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan rupiah didukung oleh kebijakan MSCI yang mempertahankan pembekuan indeks Indonesia. Keputusan MSCI untuk mempertahankan kebijakan pembekuan tersebut dilakukan tanpa adanya tindakan penghapusan besar-besaran sebagaimana yang terjadi pada tinjauan indeks periode sebelumnya. Keputusan ini menjadi faktor penopang tambahan bagi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar domestik.
Langkah Menyikapi Pelemahan IHSG Usai Hasil Evaluasi Indeks MSCI

Meskipun peluang penguatan rupiah terbuka, Lukman Leong menggarisbawahi bahwa potensi penguatan tersebut diperkirakan akan berlangsung secara terbatas. Faktor utama yang membatasi laju apresiasi rupiah adalah adanya ketidakpastian seputar prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah. Mempertimbangkan sentimen pendorong dari inflasi AS dan MSCI serta faktor penahan dari ketidakpastian di Timur Tengah, Lukman Leong mengestimasi mata uang rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.






