Ratusan ribu warga terpaksa bertahan di posko darurat dan sedikitnya 105 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Menghadapi situasi darurat tersebut, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengunjungi langsung tenda-tenda pengungsian warga di Kabupaten Nagekeo pada Rabu (26/8).
Presiden tiba di lokasi bencana menjelang pukul 12.00 waktu setempat menggunakan helikopter kepresidenan. Mengenakan kemeja safari krem, topi biru tua, dan kacamata hitam, Prabowo langsung masuk ke area pengungsian untuk menyapa serta melihat langsung kondisi para korban terdampak.
Sebelum mendatangi tenda pengungsi, Prabowo terlebih dahulu memimpin rapat koordinasi penanganan bencana di Posko Penanganan Bencana yang berada di Batalyon Teritorial Pembangunan Kabupaten Nagekeo. Kunjungan kerja ini didampingi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.
Temui Pengungsi Gempa NTT, Prabowo, Kita Hadir untuk Bantu Saudara-Saudara

Dalam konferensi pers di lokasi penampungan, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menangani dampak bencana secara menyeluruh. Pemerintah pusat maupun daerah dipastikan tidak akan tinggal diam dan seluruh jajaran dikerahkan untuk bekerja keras memulihkan keadaan masyarakat.
Dampak Kerusakan dan Korban Gempa NTT
Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (26/8), wilayah yang mengalami dampak paling parah meliputi tiga kabupaten, yaitu Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Timur.
Sapa Korban Gempa NTT, Prabowo Tegaskan Bakal Lanjutkan MBG

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto merinci bahwa total korban meninggal dunia saat ini mencapai 105 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48 korban merupakan warga yang terdampak langsung saat gempa terjadi, sedangkan 57 korban tambahan tercatat dari hasil operasi pencarian dan pertolongan (SAR) Basarnas, korban yang meninggal saat perawatan di rumah sakit, trauma, serta kelompok rentan lansia dan anak-anak.
Selain korban jiwa, BNPB mencatat 1.678 orang mengalami luka-luka dan 179.037 warga saat ini berstatus sebagai pengungsi. Pendataan sementara juga mencatat kerusakan pada permukiman warga mencapai 81.436 unit rumah.






