Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026). Dalam pidato pembukaannya, Prabowo menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ikut campur atau mengatur agenda permusyawaratan tertinggi organisasi Islam tersebut.
Prabowo menyampaikan rasa hormatnya dapat hadir dan membuka langsung agenda besar warga nahdliyin tersebut. Di hadapan para peserta dan tokoh yang hadir, ia menegaskan sikapnya yang membiarkan forum berjalan mandiri tanpa intervensi. Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga sempat menyinggung dua angka yang kerap hadir dalam perjalanan hidupnya, yakni angka 8 dan 13, sembari menyatakan kepasrahan pada kehendak Tuhan Yang Maha Besar.
Kawasan TNBTS Terbakar, Kunjungan Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Selain menyinggung dinamika muktamar, Prabowo menyoroti kontribusi historis NU terhadap perjuangan bangsa. Ia secara khusus mengulas lagu "Syubbanul Wathon" karya KH Abdul Wahab Hasbullah yang diciptakan belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan 1945. Prabowo menilai lagu tersebut menjadi bukti nyata bagaimana kalangan religius mampu melahirkan karya patriotik dan memupuk semangat nasionalisme serta kecintaan terhadap Tanah Air jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
Prabowo juga menggarisbawahi kaitan sejarah antara proklamasi dan perjuangan ulama. Kendati kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1945, ujian nyata atas kedaulatan bangsa terjadi di Jawa Timur melalui pertempuran Surabaya pada kurun Oktober hingga November 1945.
Tanggap Darurat Insiden KM Virgo Transport 8, Kemenhub Dirikan Posko di Banjarmasin

Berkaca pada rekam jejak tersebut, Prabowo melontarkan istilah "Jas Hijau" yang bermakna "Jangan Sekali-sekali Melupakan Jasa Ulama", merujuk pada semboyan legendaris Bung Karno, "Jas Merah" (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah). Ia menyampaikan apresiasi dan penghormatan tinggi kepada para ulama yang terus mendidik akhlak generasi penerus, memelihara kerukunan umat dan antarumat beragama, serta memanjatkan doa bagi keselamatan negara tanpa pamrih atau menuntut imbalan dari negara.






