Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 117 atau yang lebih dikenal dengan sebutan PSAK 117 membawa perubahan yang sangat mendasar dalam cara membaca dan menganalisis laporan keuangan perusahaan asuransi di Indonesia. Terkait hal ini, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) secara resmi menyatakan bahwa masyarakat maupun kalangan investor tidak bisa lagi menggunakan besaran premi sebagai acuan utama dalam menilai kinerja perusahaan asuransi. Perubahan standar akuntansi ini mengharuskan seluruh pemangku kepentingan untuk menyesuaikan cara mereka dalam mengevaluasi kesehatan finansial industri asuransi. Sebelumnya, besaran premi memang kerap dijadikan tolok ukur utama keberhasilan, namun kini pendekatan tersebut tidak lagi relevan dengan standar pelaporan keuangan yang baru diterapkan.
Head Working Group Keuangan dan Permodalan AAJI, Sisca Wirjawan, memberikan penjelasan rinci bahwa penyesuaian yang terjadi berfokus pada cara perusahaan asuransi mencatat arus keuangan mereka. Berdasarkan ketentuan di dalam PSAK 117, premi yang diterima oleh perusahaan asuransi tidak lagi langsung dicatat sebagai pendapatan di dalam format laporan laba rugi. Hal ini merupakan sebuah pergeseran pencatatan yang sangat signifikan dari praktik akuntansi sebelumnya, di mana setiap arus kas masuk dari premi nasabah akan secara langsung diakui sebagai bagian dari pendapatan perusahaan pada saat itu juga.
Sebagai pengganti dari metode pencatatan premi secara langsung tersebut, laporan keuangan perusahaan asuransi di bawah standar yang baru ini akan menampilkan komponen yang disebut sebagai pendapatan jasa asuransi atau insurance revenue. Angka dari insurance revenue ini memiliki makna yang jauh lebih spesifik karena secara langsung mencerminkan pendapatan yang benar-benar diperoleh oleh perusahaan atas jasa perlindungan yang telah diberikan kepada para pemegang polis selama periode berjalan. Dengan demikian, pendapatan baru akan diakui secara proporsional sejalan dengan layanan proteksi yang sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh nasabah.
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Tangga Multifungsi hingga 50 Persen Lebih

Perubahan metode pencatatan dalam PSAK 117 ini memiliki tujuan utama yang sangat jelas, yakni untuk menyajikan sumber pendapatan perusahaan asuransi secara riil dan transparan. Laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan diharapkan tidak hanya sekadar mencatat arus kas premi yang masuk, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kinerja operasional perusahaan yang sebenarnya. Bagi para investor, standar akuntansi baru ini tentu memberikan tingkat transparansi yang jauh lebih baik. PSAK 117 secara efektif memungkinkan para investor untuk membedakan dengan sangat jelas antara laba yang murni berasal dari aktivitas bisnis inti asuransi dan keuntungan yang didapatkan dari hasil investasi dana kelolaan perusahaan.
Meskipun membawa perubahan yang terbilang besar dalam sistem pelaporan keuangan, sangat penting untuk dicatat bahwa PSAK 117 sama sekali tidak mengubah model bisnis, produk, ataupun berbagai layanan yang selama ini ditawarkan oleh perusahaan asuransi kepada masyarakat luas. Standar akuntansi yang baru ini murni hanya mengubah cara perusahaan dalam mengukur cadangan keuangan mereka serta cara menyajikan laporan keuangan tersebut kepada publik. Lebih lanjut lagi, total laba yang dihasilkan dari satu polis asuransi dipastikan tetap identik antara standar PSAK yang lama dengan standar PSAK 117. Perbedaannya benar-benar hanya terletak pada metode pengukuran dan waktu pengakuan laba tersebut di dalam pembukuan resmi perusahaan.
Turis Malaysia Paling Doyan Naik Whoosh, Begini Datanya

Dengan tidak lagi berlakunya besaran premi sebagai patokan utama dalam menilai kinerja, terdapat beberapa indikator baru yang kini menjadi sangat penting untuk dievaluasi ketika membaca laporan keuangan perusahaan asuransi. Indikator-indikator penting untuk mengevaluasi perusahaan asuransi di bawah standar yang baru ini meliputi pendapatan jasa asuransi atau insurance revenue, hasil jasa asuransi, serta hasil investasi. Selain ketiga indikator tersebut, terdapat satu komponen krusial lainnya yang juga harus diperhatikan dengan saksama, yaitu Contractual Service Margin (CSM). Indikator Contractual Service Margin (CSM) ini memiliki peran yang sangat penting karena secara langsung mencerminkan potensi laba masa depan dari sebuah perusahaan asuransi. Memahami berbagai indikator baru ini akan sangat membantu masyarakat dan investor dalam melakukan analisis yang tepat dan akurat mengenai kondisi finansial perusahaan asuransi di era penerapan standar akuntansi yang baru.






