Libya tengah menghadapi kelumpuhan aktivitas harian akibat pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang parah. Situasi ini menjadi kontradiksi besar mengingat negara tersebut menyandang status sebagai pemilik cadangan minyak bumi terbukti terbesar di Benua Afrika, yakni mencapai sekitar 48 miliar barel.
Di tengah suhu udara ekstrem yang mendekati 50 derajat Celsius di beberapa wilayah, warga kesulitan menyalakan pendingin ruangan dan menjaga operasional usaha. Di Tripoli, pemilik toko kelontong Slimane Fitouri mengeluhkan rusaknya dua lemari pendingin serta produk susu yang membusuk akibat pasokan listrik terputus. Pekerja kementerian kesehatan, Abderrahmane Souissi, menuturkan bahwa harga generator melonjak tinggi, sementara pasokan bensin untuk menjalankannya justru tidak tersedia. Di wilayah barat dan tengah Libya, antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar mengular hingga empat kilometer dengan waktu tunggu mencapai enam jam atau lebih.
Ketimpangan Produksi dan Kilang Domestik
Kendati Libya mampu memproduksi sekitar 1,5 juta barel minyak mentah per hari dengan target ekspansi hingga 2 juta barel per hari, kapasitas pengolahan domestik sangat terbatas. Pasokan lokal hanya mampu memenuhi sepertiga dari total kebutuhan bahan bakar nasional. Akibatnya, pemerintah setempat harus mengimpor bahan bakar senilai US$ 7,8 miliar (sekitar Rp 138,06 triliun) pada tahun lalu guna menutup defisit konsumsi dalam negeri.
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Tangga Multifungsi hingga 50 Persen Lebih

Tekanan pada rantai pasok kian berat setelah infrastruktur penyimpanan BBM terganggu. Sebuah reservoir utama berkapasitas sekitar 4,5 juta liter bensin di Zawiya鈥攌ota yang berjarak 45 kilometer di sebelah barat Tripoli鈥攎enjadi sasaran serangan pesawat nirawak. Wilayah Zawiya sendiri selama bertahun-tahun menjadi titik konflik bersenjata sekaligus jalur penyelundupan bahan bakar, obat-obatan, dan migran.
Korupsi dan Lemahnya Tata Kelola
Sejumlah pakar dan pejabat internasional menilai krisis ini berakar dari persoalan struktural pemerintahan yang berlarut-larut. Peneliti hubungan internasional Bechir Jouini menyebut krisis energi kian parah akibat masifnya penyelundupan bahan bakar ke luar negeri serta kegagalan implementasi pemeliharaan pembangkit listrik selama bertahun-tahun.
Turis Malaysia Paling Doyan Naik Whoosh, Begini Datanya

Pandangan senada disampaikan Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Libya, Hanna Tetteh. Ia menegaskan bahwa pemadaman listrik yang meluas merupakan konsekuensi nyata dari fragmentasi kelembagaan, pengalihan sumber daya publik dalam skala besar, minimnya investasi infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan yang lemah di tengah kebuntuan politik yang belum terselesaikan.






