Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang yang melanda wilayah utara Nepal kini melonjak hingga mencapai 1.204 orang. Pembaruan data resmi ini disampaikan oleh Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua pada Rabu (2/9).
Angka terkini tersebut memperlihatkan eskalasi korban yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, surat kabar Kathmandu Post melaporkan 1.127 korban jiwa, meningkat jauh dari pembaruan pada 29 Agustus yang kala itu mengonfirmasi 586 korban tewas dan 2.478 warga dilaporkan hilang.
Ini 5 Pemain NBA yang Diprediksi Meledak Bersama Tim Baru di Musim 2026-2027

Bencana hidrometeorologi ekstrem ini dipicu oleh pencairan gletser yang menyebabkan tanah longsor di daerah aliran sungai perbatasan Nepal dan Tiongkok. Luapan air berkekuatan besar dari wilayah Tiongkok tersebut kemudian menerjang aliran Sungai Bhote Koshi dan menyapu kawasan utara Nepal pada Rabu pagi, 26 Agustus.
Upaya pencarian dan penyelamatan terus berlangsung di tengah medan yang berat. Otoritas Bencana Nepal pada Selasa (1/9) menyatakan sebanyak 330 warga negara asing (WNA) telah berhasil dievakuasi dengan selamat. Perkembangan ini menyusul laporan Kementerian Luar Negeri Nepal pada Senin (31/8) yang mencatat sekitar 590 WNA sempat hilang. Harapan evakuasi juga diperkuat setelah satu warga negara Amerika Serikat yang terdampak di jalur Nepal-Tibet berhasil dikontak oleh tim penyelamat.
Kebakaran TPA Putri Cempo Solo, Api Mengamuk di Blok D, Water Cannon Dikerahkan

Menanggapi dampak masif di kawasan Himalaya, Singapura telah mengirimkan personel kepolisian spesialis identifikasi korban bencana beserta paket bantuan kemanusiaan ke Nepal. Di sisi lain, Pemerintah Tiongkok secara resmi membantah tuduhan penyensoran video rekaman banjir bandang di kawasan Pelabuhan Gyirong.






