Sebuah unggahan di media sosial Facebook yang beredar pada Jumat, 7 Agustus 2026, memicu perhatian publik terkait program imunisasi nasional. Akun bernama Lynaa Marlinaa menyebarkan gambar mantan Menteri Kesehatan periode 2004–2009, Siti Fadilah Supari, disertai narasi yang mempertanyakan relevansi vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) pada anak. Unggahan tersebut menampilkan gambar Siti Fadilah Supari dengan ditulisi narasi: "VAKSIN HPV MASSAL PADA ANAK: KEBUTUHAN MEDIS ATAU KEPENTINGAN BISNIS GLOBAL?"
Dalam narasi yang beredar luas tersebut, terdapat sejumlah klaim yang menyudutkan program vaksinasi HPV. Pengunggah menyebutkan bahwa pemberian vaksin pada anak usia 12 tahun tidak memiliki dasar medis yang kuat karena kanker serviks umumnya baru menyerang perempuan dewasa. Selain itu, unggahan tersebut mengklaim bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan sementara selama lima hingga tujuh tahun, serta menuding perluasan vaksinasi kepada anak laki-laki murni didorong oleh potensi pendapatan industri farmasi global yang diklaim mencapai 800 miliar hingga 800 triliun dolar Amerika Serikat. Hingga 17 Agustus 2026, unggahan ini telah dibagikan ribuan kali, dan klaim serupa juga ditemukan pada beberapa akun Facebook lainnya.
Merespons klaim terkait usia penerima vaksin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru merekomendasikan pemberian vaksin HPV sebagai prioritas untuk anak perempuan berusia 9 hingga 14 tahun. Tujuan utama pemberian pada rentang usia ini adalah untuk memberikan perlindungan optimal sebelum anak terpapar virus HPV. Meskipun proses infeksi hingga berkembang menjadi kanker serviks membutuhkan waktu bertahun-tahun dan sering kali baru terdiagnosis pada usia dewasa, pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif. WHO juga menegaskan bahwa sekitar 99 persen kasus kanker serviks berkaitan erat dengan infeksi HPV.
Menghidupkan Ekonomi Sirkular Mandiri Melalui Mall Rongsok dan Wisata Rongsok di Depok

Terkait isu kemandulan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memastikan bahwa informasi tersebut adalah hoaks. Vaksin HPV terbukti aman dan tidak memiliki kaitan dengan masalah infertilitas. Hal ini sejalan dengan tinjauan dari Global Advisory Committee on Vaccine Safety di bawah naungan WHO yang tidak menemukan bukti hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dengan kemandulan. Efek samping yang umum terjadi pascavaksinasi biasanya bersifat ringan dan sementara, seperti demam, serta kemerahan, pembengkakan, atau rasa nyeri pada area bekas suntikan.
Lebih lanjut, anggapan bahwa anak laki-laki tidak membutuhkan vaksin HPV juga keliru. Berdasarkan informasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat dan penjelasan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes., HPV tidak hanya memicu kanker serviks. Pada laki-laki, virus ini dapat menyebabkan kanker penis, kanker anus, kutil kelamin, hingga kanker di area mulut dan tenggorokan. Selain untuk melindungi diri sendiri, vaksinasi pada laki-laki sangat penting untuk memutus rantai penularan, mengingat mereka dapat menjadi pembawa virus tanpa gejala dan menularkannya melalui kontak seksual.
Cara Memastikan Informasi Resmi Korban Tewas Gempa NTT yang Bertambah Menjadi 53 Orang

Adapun klaim mengenai motif bisnis di balik kebijakan perluasan vaksin tidak dilandasi oleh bukti maupun sumber yang valid. Angka fantastis terkait potensi pendapatan industri farmasi yang disebutkan dalam unggahan tersebut tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Di Indonesia, vaksin HPV telah diintegrasikan ke dalam program imunisasi nasional sejak tahun 2023 melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sebagai langkah nyata pemerintah dalam mencegah kanker serviks sejak dini. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, klaim yang beredar di media sosial terbukti salah dan menyesatkan.






