Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan di zona merah dengan dibuka melemah ke level 6.533,868 pada perdagangan Senin (14/9/2026). Kendati bursa saham domestik tertekan, mata uang rupiah justru berhasil mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan transaksi pagi.
Berdasarkan data Bloomberg per pukul 09.03 WIB, kurs rupiah terapresiasi 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.596 per dolar AS. Penguatan rupiah ini terjadi secara kontras di tengah pelemahan mayoritas mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya terhadap dolar AS. Pada periode yang sama, peso Filipina terpantau turun 0,19 persen, baht Thailand terdepresiasi 0,17 persen, dolar Singapura melemah 0,08 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,04 persen.
Pertumbuhan nilai rupiah terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) secara global justru menguat. Kenaikan mata uang AS tersebut didorong oleh aksi investor yang beralih mengamankan dana ke instrumen safe haven menyusul memanasnya eskalasi konflik antara Iran dan AS. Gejolak geopolitik tersebut sebelumnya turut mendongkrak harga minyak mentah Brent hingga sempat menembus angka USD 107,6 per barel pada akhir pekan lalu.
Prabowo di KTT BRICS, RI Tak Suka Didikte Kekuatan Tertentu

Pergerakan IHSG Tertekan Sentimen Global
Di pasar modal, data RTI Business mencatat laju IHSG makin tertekan hingga menyentuh level 6.515,351 pada pukul 09.11 WIB. Pada awal sesi perdagangan pagi tersebut, indeks bergerak dalam rentang 6.513,898 hingga level tertinggi 6.543,277.
Komposisi transaksi pada awal sesi menunjukkan sebanyak 301 saham mengalami penurunan harga, 243 saham bergerak naik, dan 173 saham lainnya stagnan. Total transaksi perdagangan pagi mencatatkan nilai perputaran (turnover) sebesar Rp1,66 triliun, yang melibatkan sebanyak 3,4 miliar lembar saham dalam 231.408 kali transaksi.
Breaking News! Baru Dibuka IHSG Sudah Turun 1%, Ini Penyebabnya

Koreksi IHSG pada awal pekan ini melanjutkan tren pelemahan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (11/9), indeks acuan saham nasional ini juga dibuka di zona negatif dan berakhir ditutup melemah pada penutupan sesi sore. Penurunan pasar saham di akhir pekan lalu tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) serta lonjakan harga minyak mentah dunia akibat dinamika geopolitik.






