Aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara belum sepenuhnya mereda pascagempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 5.966 gempa susulan telah terjadi hingga 23 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB.
Rentetan gempa susulan tersebut bervariasi dengan kekuatan antara M1,1 hingga M6,2. Kendati jumlah peristiwanya mencapai ribuan, BMKG mengidentifikasi bahwa mayoritas getaran berskala kecil, di mana hanya 132 kejadian yang dilaporkan dirasakan nyata oleh warga. Selain itu, terdapat 32 kejadian gempa susulan yang tercatat memiliki magnitudo di atas M5.
Prabowo Salurkan Rp 200 M untuk Gempa NTT, Provinsi Rp 40 M, Kabupaten Rp 20 M

Secara tektonik, BMKG menganalisis lindu utama berkekuatan M7,7 tersebut sebagai gempa bumi dangkal dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Pemicunya berkaitan langsung dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust, dengan pusat gempa utama berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer. Dari pengamatan seismik, BMKG juga mendeteksi adanya konsentrasi klaster gempa susulan di sekitar zona sesar tersebut.
Mengenai durasi dan tren aktivitas, rangkaian gempa susulan hingga 21 Agustus masih memperlihatkan pola temporal yang kompleks serta belum menunjukkan fase peluruhan yang sederhana. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan di kawasan Flores ini masih dapat terus berlangsung sekitar tiga hingga empat pekan ke depan seiring stabilisasi energi lempeng.
Kebakaran Rumah Dekat Stasiun Karet Jakpus, 115 Personel Damkar Dikerahkan

Menyikapi aktivitas seismik yang masih berlanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Warga diminta secara khusus untuk menghindari bangunan yang telah mengalami kerusakan atau retak struktural guna mengantisipasi bahaya reruntuhan.






