Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan berdampak pada kelancaran operasional transportasi udara. Gangguan jarak pandang akibat sebaran asap membuat jadwal penerbangan menuju daerah terdampak harus menyesuaikan situasi dan kondisi lapangan secara dinamis.
Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agustinus Budi Hartono, menjelaskan bahwa penerbangan ke daerah yang terdampak asap karhutla saat ini masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan visibilitas aktual.
Apabila pesawat sudah terlanjur terbang namun kondisi di bandara tujuan tidak memungkinkan untuk pendaratan yang aman, maskapai memiliki opsi operasional untuk putar balik ke bandara asal atau mengalihkan pendaratan ke bandara terdekat lainnya. Situasi ini seperti yang terjadi di Pontianak ketika bandara ditutup sementara akibat paparan asap karhutla, sehingga penerbangan menuju wilayah tersebut ditiadakan atau dialihkan ke lokasi pendaratan alternatif bagi pesawat yang sudah mengudara.
Identitas 3 Korban Tewas Akibat Kecelakaan Beruntun di Jakbar

Penanganan Karhutla di Lahan Gambut
Di sisi penanggulangan bencana, upaya pemadaman karhutla di Kalimantan Barat terus dilakukan. Dari total estimasi 802,17 hektare lahan yang terbakar di wilayah Kalbar, seluas 429,90 hektare telah berhasil dipadamkan. Tim gabungan saat ini masih berfokus menangani sisa lahan terbakar sekitar 372,27 hektare.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa operasi darat oleh Satgas Darat menjadi tumpuan utama dalam menuntaskan sisa kebakaran tersebut. Pasalnya, tantangan terberat pemadaman berada di kawasan lahan gambut, di mana bara api kerap bertahan di bawah lapisan permukaan tanah.
Kondisi Terkini Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dentuman Terdengar dari Pos Pasauran

BNPB menegaskan penanganan kebakaran di lahan gambut tidak bisa hanya mengandalkan operasi pengeboman air (water bombing) dari udara. Pengerahan dan penguatan personel di darat terus dioptimalkan guna menyisir serta memastikan seluruh titik api hingga bara di kedalaman gambut benar-benar padam, sehingga potensi kepulan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan dapat ditekan.






