Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mulai menyisir lahan-lahan pertanian di Pulau Jawa maupun luar Jawa yang memiliki sumber air untuk dipasangi pompa. Langkah ini diambil guna menjaga kesinambungan produksi pangan sekaligus menekan dampak musim kemarau di sektor pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa penyisiran difokuskan pada persawahan yang memiliki potensi air di sekitarnya. Berdasarkan laporan terakhir, areal pertanian yang terdampak kekeringan di seluruh Indonesia tercatat sekitar 30 ribu hektare dari total luas tanam nasional yang mencapai sekitar 11 juta hektare.
Di luar lahan yang mengalami kekeringan, pemerintah menargetkan hingga 100 ribu hektare lahan di Jawa yang belum ditanami tetapi memiliki sumber air untuk kembali digarap melalui intervensi pompanisasi.
Bahlil Bakal Tambah Target Pasang Baru Listrik Jadi 500 Ribu Rumah

Target Distribusi hingga 150 Ribu Pompa
Penyaluran pompa menjadi tumpuan utama strategi pengairan darurat ini. Sejauh ini, pemerintah telah menyalurkan lebih dari 100 ribu pompa ke berbagai daerah di Indonesia. Tahun ini, alokasi tambahan ditargetkan sekitar 50 ribu pompa, sehingga total unit yang disalurkan diperkirakan mencapai 150 ribu pompa.
Pada tahap sebelumnya, pemasangan sekitar 100 ribu pompa dinilai mampu meningkatkan produksi gabah di Pulau Jawa hingga sekitar 2,8 juta ton. Selain pompa, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) mencakup traktor roda dua, traktor roda empat, serta alat panen. Langkah teknis di lapangan juga didukung dengan penyaluran benih padi tahan kekeringan dan optimalisasi saluran irigasi primer, sekunder, hingga tersier.
Peningkatan Indeks Pertanaman di Karawang
Salah satu fokus percepatan berada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di wilayah ini, indeks pertanaman ditargetkan meningkat dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam. Terdapat sekitar 3.000 hektare lahan persawahan yang didorong untuk kembali ditanami dengan dukungan pompanisasi.
Kesaksian Warga soal Mayat di Gardu Listrik LRT Pancoran, Ada Darah-Bau Busuk

Produktivitas pertanian di Karawang saat ini rata-rata menghasilkan sekitar tujuh ton per hektare, dan berpotensi mencapai 10 ton per hektare apabila menerapkan metode pertanian AS. Dengan estimasi hasil tujuh ton per hektare dan asumsi harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, pemanfaatan lahan 3.000 hektare tersebut diperkirakan dapat menambah pendapatan petani sekitar Rp136 miliar.
Mengenai stabilitas pangan secara makro, Amran menyatakan pemerintah terus memantau ketersediaan beras nasional di tengah ancaman kekeringan. Berdasarkan kalkulasi ketersediaan pasokan yang mencakup stok di gudang, pertanaman di lahan, serta proyeksi panen mendatang, pasokan beras nasional masih dipastikan mencukupi.






