Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) sempat memicu kepanikan akibat adanya peringatan dini tsunami. Bencana ini mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas vital, termasuk infrastruktur transportasi seperti Pelabuhan Laurentius Say, Pelabuhan Reo, Pelabuhan Nangakeo, hingga Bandar Udara Komodo. Selain itu, Perum Bulog juga harus melakukan survei langsung untuk memeriksa tingkat kerusakan pada struktur bangunan gudang pangan mereka yang terdampak guncangan.
Merespons situasi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto segera menginstruksikan jajaran pemerintah pusat untuk turun langsung ke lapangan guna mempercepat penanganan pascabencana. Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian hadir di NTT dan memimpin Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Natas Lehong, Kabupaten Manggarai Timur. Mengenakan busana adat Manggarai Timur lengkap dengan kain songke, selendang leros, dan penutup kepala khas suku Rongga, Tito didampingi oleh Kepala Basarnas Mohammad Syafii, Bupati Manggarai Timur Agas Andreas, serta jajaran Forkopimda setempat. Dalam kesempatan tersebut, Tito sebut pemerintah hadir di NTT sebagai wujud nyata komitmen negara dalam mempercepat pemulihan masyarakat terdampak.
Bagi warga maupun pemerintah daerah yang ingin mengakses bantuan serta berkoordinasi dalam proses pemulihan pascagempa ini, terdapat beberapa langkah sistematis yang dapat diikuti untuk menyelaraskan upaya dengan program penanganan dari pemerintah pusat.
Pengibaran Bendera Bawah Laut HUT ke-81 RI di Pulau Miang Kalimantan Timur

Langkah pertama adalah melakukan koordinasi evakuasi dan penyelamatan melalui posko darurat terdekat. Warga yang membutuhkan pertolongan segera atau ingin melaporkan korban yang belum terevakuasi dapat menghubungi Tim Baznas Tanggap Bencana (BTB) yang telah diterjunkan ke lokasi, atau berkoordinasi langsung dengan personel Basarnas di bawah arahan Mohammad Syafii. Pastikan laporan mencakup lokasi detail dan jumlah warga yang membutuhkan bantuan medis atau logistik darurat.
Langkah kedua adalah memantau status operasional sarana transportasi dan logistik sebelum melakukan mobilisasi. Mengingat Pelabuhan Laurentius Say, Pelabuhan Reo, Pelabuhan Nangakeo, dan Bandara Komodo sempat terdampak, masyarakat disarankan untuk berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan atau bandara setempat guna memastikan jalur evakuasi dan distribusi barang aman dilalui. Untuk urusan pasokan pangan, pihak desa atau kecamatan dapat berkoordinasi dengan Bulog yang saat ini sedang menguji kelayakan struktur gudang mereka yang mengalami kerusakan sedang agar penyaluran beras bantuan tetap berjalan lancar.
Pertamina Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores Magnitudo 7,7

Langkah ketiga adalah memanfaatkan jalur bantuan non-pemerintah yang telah menyatakan kesiapan berpartisipasi. Selain bantuan resmi dari kementerian dan lembaga negara, kelompok masyarakat atau relawan dapat berkoordinasi dengan organisasi yang membuka posko bantuan khusus, seperti PKS Jawa Barat yang telah menyatakan kesiapannya untuk membantu proses penanganan korban bencana di NTT. Penyaluran bantuan ini sebaiknya disinkronkan dengan data Forkopimda setempat agar tidak terjadi tumpang tindih distribusi.
Perlu dicatat bahwa proses pemulihan infrastruktur pelabuhan dan bandara masih memerlukan waktu evaluasi teknis yang mendalam dari kementerian terkait. Tingkat kerusakan gudang Bulog juga masih dalam tahap survei struktural, sehingga kapasitas distribusi logistik mungkin akan mengalami penyesuaian sementara. Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan selalu memantau informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah setempat.






