Peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur mendorong Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menyiapkan operasi pengeboman air atau water bombing. Sebanyak lima titik di kawasan penyangga IKN kini dipetakan menjadi sasaran utama pembasahan dari udara.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna A. Safitri menjelaskan, titik pertama yang menjadi target pemadaman berada di area Bukit Tengkorak yang masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Sasaran berikutnya membentang di sepanjang koridor Bukit Merdeka hingga Teluk Dalam pada poros Samarinda-Balikpapan.
Selain itu, pembasahan udara turut diarahkan ke jalur Wonotirto menuju Tanjung Harapan. Kawasan tersebut merupakan area rawa gambut yang saat ini berada dalam kondisi mengering akibat musim kemarau.
Rumah di Cileungsi Bogor Kebakaran saat Ditinggal Penghuni Antar Anak

Menurut Myrna, seluruh target operasi memiliki karakteristik vegetasi campuran dengan kontur tanah berbukit. Kondisi geografis tersebut membuat pemadaman dari udara dinilai jauh lebih aman dan efektif dibandingkan mengerahkan personel darat melalui jalur setapak.
Dalam pelaksanaan di lapangan, OIKN menjalin kolaborasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Udara (AU). Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi Danis H Sumadilaga menuturkan bahwa operasi taktis ini digencarkan menyusul pemantauan intensif terhadap peningkatan ancaman api di kawasan penyangga ibu kota baru.
Babah Alun Bangun Tol-Tol Baru, Ada Tol Layang Anti Gempa 1.000 Tahun

Untuk mendukung operasi pemadaman, TNI AU menyiagakan satu unit Helikopter Caracal di Pangkalan Udara (Lanud) Dhomber Balikpapan. Helikopter tersebut dilengkapi kantong air (bambi bucket) berkapasitas angkut 2.000 liter atau setara dua ton air untuk setiap kali penerbangan.
Danis menegaskan bahwa misi udara ini tidak hanya difokuskan untuk memadamkan titik api (hotspot) yang telah muncul, tetapi juga melakukan pembasahan preventif pada zona-zona rawan guna menekan potensi perambatan api. OIKN akan terus memantau wilayah rentan secara berkala selama musim kemarau, dengan penentuan titik koordinat pembasahan berikutnya mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan tim lapangan.






