Kabar duka datang dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Seorang relawan pemadam kebakaran, Ahmadin alias Itam Madin, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas saat bertugas memadamkan kobaran api karhutla di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Ahmadin, yang tergabung sebagai anggota kelompok relawan Damkar Huma Singgah Itah, sebelumnya sempat dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan medis. Ia harus menjalani perawatan intensif di RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, akibat gangguan pernapasan yang dialaminya.
Keluhan sesak napas tersebut muncul setelah Ahmadin terus-menerus berjibaku dengan kepungan asap tebal di lokasi pemadaman karhutla sejak sepekan sebelumnya. Setelah sempat dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatan Ahmadin kian memburuk hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Minggu (30/8) malam.
Polisi, Kebakaran Posko Ormas di Jakbar karena Korsleting Listrik

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Barat, Dwi Agus Suhartono, mengonfirmasi peristiwa duka tersebut. Dwi Agus menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat dua personel dari Satgas Karhutla yang harus dilarikan dan menjalani perawatan di RSUD Sultan Imanudin akibat dampak bertugas di lapangan. Dari dua petugas yang dirawat tersebut, Ahmadin dinyatakan meninggal dunia, sedangkan satu rekan petugas lainnya masih terus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Kepergian Ahmadin meninggalkan duka mendalam bagi seluruh tim yang terlibat dalam penanggulangan karhutla di daerah tersebut. Dwi Agus Suhartono menyampaikan bahwa kabar wafatnya Ahmadin menjadi pukulan berat bagi pihak keluarga, rekan sesama relawan, maupun seluruh jajaran petugas yang berada di garda terdepan penanganan karhutla.
Bantuan Kemanusiaan Mengalir untuk Warga Terdampak Gempa di Ende

Menurut Dwi Agus, para relawan dan petugas menghadapi tantangan yang sangat berat selama musim kebakaran yang melanda berbagai titik di Kotawaringin Barat. Dalam menjalankan tugas di lapangan, para personel harus berhadapan langsung dengan suhu panas ekstrem, paparan asap pekat, serta medan yang sulit dijangkau, di samping ancaman risiko kesehatan yang terus membayangi setiap saat.






