Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh musim kemarau dan fenomena El Nino sejak Juli hingga awal Agustus 2026 telah menimbulkan dampak serius di sejumlah wilayah Indonesia. Situasi ini tidak hanya merusak ekosistem dan menghentikan aktivitas pariwisata secara total, tetapi juga telah merenggut nyawa warga. Laporan terkini menunjukkan peningkatan titik api di beberapa provinsi, dengan dampak paling parah tercatat di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat setempat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung.
Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, karhutla telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Seorang warga bernama Taufik Hidayat (26) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menerobos kepulan asap tebal saat hendak pulang ke rumah. Korban diduga kehilangan kesadaran akibat kekurangan oksigen sebelum akhirnya tubuhnya hangus terbakar. Selain korban jiwa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat juga mengevakuasi seorang warga lanjut usia yang mengalami luka bakar ke Rumah Sakit dr. Agoesdjam Ketapang untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Wilayah yang dipimpin oleh Bupati Alexander Wilyo ini kini menghadapi ancaman kabut asap yang pekat. Bahkan, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), asap dari kebakaran lahan di Kalimantan Barat tersebut berpotensi menyeberang hingga ke negara tetangga, Malaysia.








