Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh musim kemarau dan fenomena El Nino sejak Juli hingga awal Agustus 2026 telah menimbulkan dampak serius di sejumlah wilayah Indonesia. Situasi ini tidak hanya merusak ekosistem dan menghentikan aktivitas pariwisata secara total, tetapi juga telah merenggut nyawa warga. Laporan terkini menunjukkan peningkatan titik api di beberapa provinsi, dengan dampak paling parah tercatat di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat setempat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung.
Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, karhutla telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Seorang warga bernama Taufik Hidayat (26) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menerobos kepulan asap tebal saat hendak pulang ke rumah. Korban diduga kehilangan kesadaran akibat kekurangan oksigen sebelum akhirnya tubuhnya hangus terbakar. Selain korban jiwa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat juga mengevakuasi seorang warga lanjut usia yang mengalami luka bakar ke Rumah Sakit dr. Agoesdjam Ketapang untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Wilayah yang dipimpin oleh Bupati Alexander Wilyo ini kini menghadapi ancaman kabut asap yang pekat. Bahkan, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), asap dari kebakaran lahan di Kalimantan Barat tersebut berpotensi menyeberang hingga ke negara tetangga, Malaysia.
Sementara itu, di Jawa Timur, kawasan wisata Gunung Bromo terpaksa ditutup total akibat kebakaran yang terus meluas sejak pertama kali muncul pada 3 Agustus 2026. Hingga Jumat, 7 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di kawasan taman nasional ini telah mencapai 176 hektare. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) di bawah kepemimpinan Rudijanta Tjahja Nugraha mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh akses masuk bagi pengunjung. Penutupan ini berlaku di semua pintu masuk utama, termasuk pintu masuk Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, pintu masuk Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, pintu masuk Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta pintu masuk Senduro di Kabupaten Lumajang.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Pihak BBTNBTS menduga bahwa kebakaran di Gunung Bromo dipicu oleh aktivitas pengunjung yang membuat perapian atau api unggun untuk menghangatkan diri di tengah suhu dingin pegunungan. Hingga saat ini, upaya pemadaman terus dilakukan karena titik api masih terpantau di wilayah timur, tepatnya mendekati arah Bukit B29. Meskipun demikian, titik api di bagian utara, seperti di Desa Sariwani (Kecamatan Sukapura) dan Bukit Jantur, dilaporkan telah berhasil dipadamkan, walaupun kepulan asap masih terlihat membubung di lokasi tersebut.
Kebakaran lahan juga melanda wilayah Jawa Barat, tepatnya di kawasan Alun-alun Suryakancana, Gunung Gede Pangrango. Peristiwa kebakaran di area barat Alun-alun Suryakancana yang mendekati Gunung Gumuruh ini dilaporkan terjadi pada Kamis, 6 Agustus 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. Dudan Darmawan dari Gede Pangrango Operation mengonfirmasi kejadian tersebut, yang menambah daftar panjang kawasan konservasi yang terdampak karhutla pada musim kemarau kali ini.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Di bagian lain Indonesia, tepatnya di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran lahan juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga Sabtu, 8 Agustus 2026, luas lahan yang hangus terbakar di wilayah ini telah mencapai sekitar 118 hektare. Kepala BPBD Kabupaten Bangka Tengah, Yudi Shabara, mencatat sedikitnya terjadi 51 kali peristiwa kebakaran lahan sepanjang periode Juli hingga 8 Agustus 2026. Salah satu titik yang paling rawan dan membutuhkan perhatian ekstra adalah sepanjang ruas jalan utama dari Koba menuju Kurau, yang mencatatkan 11 kejadian kebakaran dalam periode tersebut. Kebakaran di jalur utama ini tentu membahayakan keselamatan pengguna jalan akibat terbatasnya jarak pandang.
Bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak atau berencana melakukan perjalanan, sangat penting untuk memantau perkembangan kondisi terkini secara berkala. Hindari aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak di daerah terpapar asap guna mencegah gangguan pernapasan. Selain itu, pastikan kepatuhan penuh terhadap larangan masuk ke kawasan wisata yang ditutup dan hindari segala tindakan yang dapat memicu percikan api di lahan kering, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membuat perapian terbuka.






