Perkembangan teknologi digital yang kian masif saat ini turut mendorong persaingan yang ketat di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Negara-negara di kawasan ini saling berlomba untuk menarik minat dan investasi dari raksasa teknologi dunia, seperti Microsoft hingga Google. Persaingan ini tidak terlepas dari proyeksi besarnya potensi pasar digital di kawasan ASEAN, yang diperkirakan dapat mencapai angka USD triliun pada tahun 2030 mendatang. Kondisi ini memicu perlombaan yang semakin meningkat dalam membangun berbagai infrastruktur penting, mulai dari pusat data (data center), komputasi awan (cloud), hingga ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam menghadapi dinamika ini, pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan daya saing negara agar dapat berkompetisi secara sehat dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Langkah strategis ini sangat penting agar Indonesia tidak kehilangan momentum dalam menarik investasi dari para raksasa teknologi global. Pembahasan mengenai daya saing dan strategi investasi ini diuraikan oleh Cahyo Purnomo, yang menjabat sebagai Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah & Afrika di Kementerian Investasi & Hilirisasi/BKPM. Penjelasan tersebut disampaikan dalam sebuah dialog bersama Shafinaz Nachiar dalam program 'Profit' yang ditayangkan di CNBC Indonesia.
Untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik bagi para raksasa teknologi dunia, Indonesia berfokus pada penguatan infrastruktur dalam negeri. Upaya penguatan infrastruktur ini dilakukan melalui penyediaan dan ketersediaan energi bersih lewat Energi Baru Terbarukan (EBT). Selain pengembangan EBT, pemerintah Indonesia juga mengandalkan program hilirisasi mineral kritis sebagai salah satu daya tarik utama untuk menjaring investasi teknologi global. Sinergi antara penyediaan energi ramah lingkungan dan hilirisasi mineral kritis ini diharapkan dapat menjadi magnet kuat bagi para investor global yang membutuhkan pasokan energi berkelanjutan dan bahan baku industri teknologi.
Tarik Dana Asing, Pasar Modal Indonesia Masih Membutuhkan Katalis Positif

Di samping penguatan infrastruktur, pemerintah Indonesia juga telah menetapkan fokus pada sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas nasional. Saat ini, program pengembangan semikonduktor dan pengembangan ekonomi digital telah ditetapkan menjadi program prioritas oleh pemerintah Indonesia. Fokus pada semikonduktor dan ekonomi digital ini sejalan dengan arah perkembangan teknologi dunia yang membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat dan terintegrasi di tingkat lokal.
Langkah Indonesia dalam menarik aliran investasi teknologi di kawasan ASEAN kini sudah mulai menunjukkan hasil yang nyata di lapangan. Salah satu contoh realisasi investasi yang telah masuk ke Indonesia adalah dari perusahaan Bytedance, yang tercatat telah merealisasikan investasinya dengan nilai mencapai Rp 730 miliar. Tidak hanya itu, komitmen investasi asing juga datang dari wilayah lain, di mana terdapat sebuah perusahaan asal Timur Tengah yang sudah membangun investasinya secara nyata di kawasan Batam.
Rencana Operasi Militer Gabungan Amerika Serikat dan Kolombia Melawan Jaringan Teror

Melalui kombinasi antara pengembangan program prioritas seperti semikonduktor dan ekonomi digital, penguatan infrastruktur energi baru terbarukan, serta hilirisasi mineral kritis, Indonesia terus memposisikan diri sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Upaya-upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan ketat dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia untuk memperebutkan potensi pasar digital ASEAN yang bernilai USD triliun pada tahun 2030.






