Punya ijazah dari universitas ternama kini tidak menjadi jaminan seseorang bisa mulus meniti karier. Banyak lulusan strata satu harus menghadapi realitas pahit fenomena overeducated, yaitu kondisi ketika seseorang berpendidikan tinggi bekerja di posisi yang berada di bawah kualifikasi akademiknya. Berdasarkan riset LPEM FEB UI pada Juli 2026, terdapat sekitar delapan juta sarjana hingga doktor yang mengalami kondisi ini, paling banyak di bidang administrasi dan pelayanan. Untuk menyambung hidup, ada sejumlah cara dan langkah adaptasi yang dilakukan para sarjana saat menghadapi terbatasnya lapangan kerja profesional.
Langkah pertama yang kerap diambil untuk bertahan hidup adalah mengesampingkan ijazah strata satu dan menurunkan standar pencarian kerja. Hal ini dilakukan oleh Dwi, seorang sarjana filsafat dari perguruan tinggi negeri di Jawa. Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan jurnalis di Jakarta pada akhir 2019 dan terdampak pandemi, ia pulang ke Bandung dan melamar pekerjaan apa saja. Dwi sempat menjadi tenaga penjualan kontrak di perusahaan rintisan logistik, berjualan air mineral di pinggir jalan, hingga membuat dan menjual sempol ayam di depan rumahnya meski usahanya hanya bertahan tiga bulan. Ia juga pernah menjadi pekerja kasar pemasang baliho untuk calon anggota legislatif.
Cara lain yang ditempuh saat persaingan tenaga kerja semakin ketat adalah rela melamar pekerjaan yang hanya mensyaratkan ijazah Sekolah Menengah Atas. Dwi sempat melamar posisi pramukantor dan barista menggunakan ijazah sekolah menengah, meski terkendala batasan usia bursa kerja yang rata-rata maksimal 30 tahun, sementara usianya menjelang 34 tahun. Pengalaman serupa juga dialami Lia, sarjana komunikasi dan penyiaran Islam yang lulus pada 2022. Ia kini bekerja di sebuah toko hijab dan butik di Banda Aceh dengan posisi yang sejajar bersama rekan kerjanya yang merupakan lulusan sekolah menengah.
Layanan VCT dan Pengobatan HIV/AIDS Gratis di Fasilitas Kesehatan Pekanbaru

Menghadapi pertumbuhan pesat kesempatan kerja di bidang pelayanan, para sarjana juga beradaptasi dengan mengambil peran ganda di tempat kerja atau mencari pekerjaan lepas. Di butik tempatnya bekerja, Lia tidak hanya menjadi pramuniaga yang melayani pembeli secara langsung, tetapi juga mengelola administrasi media sosial, toko daring, hingga menjadi pembuat konten. Sementara itu, Dwi yang kini kembali menetap di Jakarta menyambi sebagai pekerja lepas di bidang pembuatan konten untuk menambah pemasukan keluarga, di samping mengandalkan pendapatan istrinya.
Di tengah ketidakpastian karier, meningkatkan kemampuan di luar bidang studi kuliah menjadi strategi penting berikutnya. Dwi memilih untuk terus mengasah kemampuannya di bidang pemasaran digital secara mandiri. Ia mengikuti sejumlah program pelatihan intensif dengan harapan keterampilan baru tersebut dapat menjadi modal untuk membangun agensinya sendiri di masa depan.
Peringatan Tsunami Gempa NTT Berakhir, Warga Diminta Tetap Jauhi Pantai

Terakhir, pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi akademik dapat dimanfaatkan sebagai batu loncatan. Lia menganggap pekerjaannya di butik yang gajinya dihitung berdasarkan sistem giliran kerja harian sebagai cara untuk mengisi waktu daripada menganggur. Ia tetap memelihara cita-citanya dan menjadikan pekerjaan berpenghasilan maksimal 1,5 juta rupiah per bulan tersebut sebagai penopang kebutuhan sehari-hari sembari menunggu pembukaan seleksi calon pegawai negeri sipil di Kementerian Agama.






