Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering kali menyajikan dinamika yang menarik untuk dicermati, terutama ketika terjadi perbedaan arah antara pergerakan modal asing secara keseluruhan dengan minat pada saham-saham tertentu. Fenomena ini terlihat jelas pada perdagangan sesi I Jumat, 14 Agustus 2026. Meski investor asing secara akumulatif mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) hingga Rp377,63 miliar di seluruh pasar, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) justru menjadi sasaran beli bersih oleh investor global tersebut.
Situasi pasar modal pada hari itu diwarnai oleh volatilitas yang cukup tinggi. IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 6.267,41 pada awal perdagangan. Namun, indeks kemudian berhasil bangkit dan menyentuh level tertinggi di 6.343,11, sebelum akhirnya ditutup menguat 35,42 poin atau 0,56 persen ke level 6.337,19 pada akhir sesi I. Penguatan ini melanjutkan tren penutupan dari hari sebelumnya, Kamis, 13 Agustus 2026, di mana indeks parkir di level 6.301,77.
Menariknya, pergerakan indeks ini terjadi di tengah berlangsungnya pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta. Momen kenegaraan seperti ini kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan pemerintah ke depan. Di tengah sentimen tersebut, nilai transaksi di bursa sepanjang sesi I mencapai Rp6,48 triliun dengan volume perdagangan 17,04 miliar saham dalam 1,03 juta kali transaksi.
Pemerintah RI Tebar Insentif Pajak pada 2027, Nilainya Tembus Rp632 Triliun

Perbedaan strategi investasi asing terlihat jelas dari rincian data transaksi. Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp3,84 triliun, dengan rincian pembelian asing (foreign buy) sebesar Rp1,73 triliun dan penjualan asing (foreign sell) Rp2,11 triliun. Ketika dana asing keluar cukup besar dari saham-saham seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang dilepas hingga Rp213,13 miliar, saham berkapitalisasi besar seperti BBRI justru memimpin daftar beli asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp43,65 miliar, disusul oleh ANTM senilai Rp33,13 miliar.
Kondisi pasar yang terbagi ini juga tecermin dari data pergerakan saham. Hingga akhir sesi I, tercatat sebanyak 305 saham mengalami penguatan, 315 saham melemah, dan 343 saham lainnya bergerak stagnan. Meski indeks secara umum menguat, sektor keuangan justru tercatat melemah 0,21 persen. Penguatan IHSG pada sesi tersebut sebenarnya lebih ditopang oleh tujuh sektor lainnya, dipimpin oleh sektor barang baku yang naik 1,35 persen, serta kontribusi saham seperti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) yang juga diborong asing sebesar Rp24,05 miliar dan menjadi salah satu penopang utama indeks hari itu.
Pertamina Beri Diskon Pertamax Rp450 per Liter Sambut HUT ke-81 RI

Bagi para pelaku pasar, situasi seperti ini memberikan pelajaran penting mengenai pemisahan antara tren indeks gabungan dengan kinerja saham secara individu. Aksi jual bersih oleh asing secara agregat tidak selalu berarti seluruh saham di pasar sedang dihindari. Sebaliknya, saham-saham dengan fundamental atau prospek tertentu sering kali tetap menjadi pilihan utama untuk diakumulasi saat pasar mengalami fluktuasi. Memahami dinamika arus dana asing dan sentimen domestik menjadi kunci penting dalam menyusun strategi investasi di Bursa Efek Indonesia.






