Bagaimana ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran memengaruhi harga bahan bakar global yang kita gunakan sehari-hari? Pertanyaan ini menjadi krusial ketika pasar energi dunia kembali bergejolak. Kenaikan harga minyak mentah baru-baru ini dipicu langsung oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dunia.
Pada perdagangan hari Selasa (18/18), harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik sebesar 0,5 persen menjadi USD 84,94 per barel. Sementara itu, Brent untuk penyelesaian Oktober mengalami kenaikan 0,2 persen ke angka USD 91,02 per barel. Secara akumulatif sepanjang tahun ini, minyak mentah Brent bahkan telah menguat hampir 50 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar yang mendalam terhadap stabilitas pasokan energi global.
Penyebab utama dari lonjakan harga ini adalah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi titik panas setelah adanya laporan dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengenai serangan terhadap kapal yang baru keluar dari selat tersebut, yang mengakibatkan kerusakan pada ruang mesin dan jatuhnya korban di kalangan kru kapal. Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya saat ini tidak sedang menjalin pembicaraan dengan Iran, serta mengancam akan menyerang Oman jika negara tersebut menghalangi blokade angkatan laut yang dilakukan oleh AS.
9 Gempa Bermagnitudo di Atas 4 Guncang Nagekeo NTT Pagi Ini

Meskipun situasi di lapangan memanas, para pejabat Amerika Serikat mengindikasikan pendekatan jangka panjang. Utusan Jared Kushner menyatakan bahwa Trump akan bersabar dalam mencapai kesepakatan, sementara Menteri Energi Chris Wright menegaskan bahwa AS sedang memainkan permainan panjang dengan Iran. Di sisi lain, Menteri Keuangan Scott Bessent membocorkan bahwa langkah-langkah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya akan segera diumumkan dalam waktu dekat. Ketidakpastian mengenai kebijakan baru ini membuat pelaku pasar mengambil langkah antisipasi. Berdasarkan data Bridgeton Research Group Kpler, penasihat perdagangan komoditas yang mengikuti tren telah meningkatkan posisi mereka di Brent menjadi 55 persen, naik dari 46 persen pada hari Senin sebelumnya.
Untuk menyiasati potensi hambatan distribusi di Selat Hormuz, Arab Saudi kini menawarkan kargo minyak dari wilayah di luar titik kemacetan tersebut. Langkah ini menjadi alternatif penting bagi pasar global, terutama karena margin pengolahan solar dari minyak mentah telah mencapai USD 100 per barel. Di sisi lain, situasi pasar juga dipengaruhi oleh laporan persediaan domestik AS. Data cadangan minyak AS dari pekan sebelumnya menunjukkan kenaikan tidak terduga ke level tertinggi dalam kurun waktu sekitar dua bulan, yang setidaknya memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas di tengah ketatnya pasokan.
Aismoli Sambut Positif Langkah Strategis Pemerintah Kembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik

Bagaimana arah pergerakan harga minyak ke depan masih sangat bergantung pada langkah konkret yang akan diambil oleh Washington dan Teheran. Kepala analis komoditas di SEB, Bjarne Schieldrop, bersama pengamat pasar lainnya terus memantau apakah ketegangan ini akan mereda atau justru berujung pada eskalasi militer yang lebih luas. Selama solusi diplomatik atas konflik AS dan Iran belum menemui titik terang, volatilitas harga energi global diperkirakan masih akan terus membayangi perekonomian dunia.






